Beranda | Artikel
Makna Kembali Kepada Al-Quran dan As-Sunnah
13 jam lalu

Makna Kembali Kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minnah ‘Alim Ar-Raqib. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 25 Safar 1448 H / 11 Agustus 2026 M.

Kajian Hadtis Tentang Kembali Kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Karena itu dikenal istilah sunnah hasanah dan sunnah sayyiah. Sunnah hasanah adalah cara yang baik, yang diajarkan atau dilakukan seseorang. Adapun sunnah sayyiah adalah cara yang buruk, dilakukan oleh seseorang, lalu dicontoh dan diikuti oleh orang lain.

Namun, ketika kata as-sunnah disebut secara umum, yang biasanya dimaksud adalah ath-thariqah al-mahmudah, yaitu cara atau perbuatan yang baik dan terpuji.

Ulama fikih, ulama hadits, dan ulama ushul fikih masing-masing memiliki definisi mengenai sunnah. Karena pembahasan ini berkaitan dengan hadits, makna sunnah yang disampaikan adalah definisi menurut ulama hadits. Menurut mereka, sunnah adalah segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun sifat beliau, baik sifat fisik maupun akhlak.

Adapun menurut ulama fikih, sunnah adalah sesuatu yang berlawanan dengan wajib. Oleh karena itu ulama fikih mendefinisikan sunnah sebagai sesuatu yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan umat ini untuk berpegang pada Al-Kitab, yaitu Al-Qur’anul Karim, dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di antara dalil tentang kewajiban mengikuti tuntunan dan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah firman Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 3.

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu, dan janganlah kamu mengikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raf [7]: 3)

Ayat ini memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu Al-Qur’anul Karim. Umat diperintahkan mengikutinya dan tidak berpaling darinya. Tidak boleh mengikuti selain apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.

Mengikuti Al-Qur’anul Karim berarti mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena Al-Qur’an memerintahkan ketaatan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dalil berikutnya tentang perintah mengikuti Al-Qur’an dan sunnah adalah Surah Ali ‘Imran ayat 31.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Wahai Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan manusia untuk mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jalan untuk mendapatkan cinta Allah ‘Azza wa Jalla adalah mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dalil lain terdapat dalam Surah Al-A’raf ayat 158.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah (Wahai Muhammad), ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua, yaitu Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Tidak ada sembahan yang hak selain Dia; Dia menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu Nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya. Ikutilah dia agar kamu mendapat petunjuk.’” (QS. Al-A’raf [7]: 158)

Ayat ini menerangkan bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah utusan Allah kepada seluruh manusia. Allah yang mengutus beliau adalah Pemilik dan Penguasa langit serta bumi. Tidak ada sembahan yang hak selain Allah. Dia menghidupkan dan mematikan.

Manusia diperintahkan beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, yaitu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, nabi yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Beliau beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya, yaitu kitab-kitab Allah. Manusia juga diperintahkan mengikuti beliau agar mendapat petunjuk.

Larangan Bid’ah dalam Agama

Dalil berikutnya adalah Surah Al-Hasyr ayat 7.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, ambillah. Apa yang dilarangnya bagimu, tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7)

Di antara perkara yang dilarang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bid’ah, yaitu mengada-adakan sesuatu dalam agama Allah. Bid’ah berkaitan dengan agama, bukan dengan urusan dunia.

Bid’ah dapat berupa membuat ibadah baru, menambah atau mengurangi bentuk ibadah, membuat akidah baru, atau membuat cara, metode, dan tarekat dalam beribadah kepada Allah Ta’ala yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini semua adalah bid’ah.

Masalah dunia harus dibedakan dari masalah agama. Urusan dunia berkembang. Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak ada mobil. Kendaraan beliau ketika safar adalah unta, keledai, atau kuda. Itu urusan dunia, bukan urusan agama.

Setelah zaman berkembang, ditemukan mobil, kapal laut, dan pesawat. Semua itu termasuk masalah dunia. Dunia belum sempurna dan terus berkembang, sedangkan agama Allah sudah sempurna. Karena itu, agama tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi.

Sebagian orang tidak membedakan hal ini. Ketika dilarang melakukan bid’ah, mereka menyangka semua hal baru disebut bid’ah, termasuk mobil, sehingga seakan-akan manusia harus naik unta seperti pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sikap seperti ini muncul karena tidak memahami atau tidak memiliki dalil untuk membantah.

Orang yang tidak memiliki dalil biasanya mengambil apa saja sebagai pegangan, meskipun rapuh. Adapun orang yang memiliki dalil akan berpegang pada dalil yang kuat.

Masalah akidah, ibadah, akhlak, dan perkara yang telah ditetapkan oleh agama Allah sudah sempurna. Semua itu tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi. Ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diterima sebagaimana adanya.

Adapun urusan duniawi belum sempurna dan masih terus berkembang. Pada masa dahulu, kitab-kitab para ulama tersusun di rak-rak besar. Pada masa sekarang, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kitab-kitab yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan dapat disimpan di saku dan dibawa ke mana-mana seperti perpustakaan berjalan.

Larangan terhadap bid’ah harus dibedakan. Larangan itu berkaitan dengan agama: akidah, ibadah, akhlak, serta hal-hal yang telah ditetapkan oleh Allah. Termasuk suluk, yaitu jalan menuju Allah, telah ditetapkan, dicontohkan, dan diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Karena itu, tidak boleh membuat cara lain untuk menuju Allah Ta’ala. Setelah diutusnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jalan yang harus ditempuh adalah jalan yang dituntun dan diajarkan oleh beliau. Semua jalan lain tertutup. Hanya satu jalan yang dapat menyampaikan seorang hamba kepada ridha dan cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu jalan yang ditunjukkan dan ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umatnya.

Jalan itu diikuti oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Inilah jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini harus dipahami dengan benar agar tidak salah kaprah dalam membenarkan bid’ah yang tidak memiliki ajaran dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat.

Mengada-adakan sesuatu dalam agama, lalu menganggapnya sebagai ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau menganggapnya baik-baik saja, tidak dibenarkan.

Agama Ini Mudah

Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah agama yang mudah dan tidak menyulitkan hamba-hamba Allah. Orang yang benar-benar berpegang kepada Islam dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hakikatnya tidak akan mengalami kesulitan.

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

“Sesungguhnya agama ini mudah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena agama ini mudah, seorang muslim tidak boleh mempersulit diri dengan membuat cara-cara baru untuk menuju Allah. Misalnya, menetapkan bacaan tertentu pada malam tertentu dengan jumlah tertentu: malam Jumat membaca Qul Huwallahu Ahad seribu kali, malam Sabtu membaca Qul A’udzu bi Rabbil Falaq seribu kali, dan malam Ahad membaca Qul A’udzu bi Rabbin Nas seribu kali. Ajaran seperti ini tidak ada tuntunannya.

Walaupun yang dibaca adalah Al-Qur’an dan surat-surat yang mulia, amalan tersebut tetap tidak memiliki tuntunan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau tidak pernah menunjukkan hal itu. Karena itu, tidak boleh membuat sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Agama ini mudah. Dalam shalat empat rakaat saja seseorang kadang bingung karena tidak konsentrasi, apakah sudah tiga atau empat rakaat. Maka, menetapkan hitungan seribu kali untuk bacaan tertentu justru menyulitkan. Apa yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah agama yang mudah. Karena itu, seorang muslim tidak boleh mempersulit diri dengan mengada-adakan sesuatu dalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56464-makna-kembali-kepada-al-quran-dan-as-sunnah/